Bahaya Air Isi Ulang

Murah, tapi Risiko Besar
Mutu air minum isi ulang kian mengkhawatirkan. Ia tercemar bakteri penyakit dan logam berat kadmium.

Bahaya Air Isi Ulang

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Begitu agaknya keadaan bisnis air minum isi ulang. Pekan-pekan lalu, Institut Pertanian Bogor (IPB) serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Departemen Kesehatan telah memublikasikan hasil penelitian mereka terhadap depot-depot air minum isi ulang. Hasilnya, air minum isi ulang diketahui tercemar bakteri patogen seperti coliform, bahkan ada yang terkontaminasi logam berat kadmium.

Toh, usaha niaga air minum isi ulang di banyak kota bukan hanya bergeming, namun juga tetap marak bagaikan jamur pada musim hujan. Bila beberapa waktu lalu, baru ada 400-an depot yang menjual air minum isi ulang di seluruh Indonesia, kini ditaksir jumlahnya sudah sepuluh kali lipat. Di Jakarta saja ada 330 depot air minum isi ulang.

Boleh jadi itu lantaran bisnis air minum isi ulang terhitung gampang dan murah, sementara peminat alias konsumennya terus membeludak. Di depot, konsumen bisa membeli air minum isu ulang hanya dengan harga sekitar Rp 2.500 per galon atau sebanyak 19 liter. Bandingkan dengan air minum kemasan, antara lain dari merek terkenal semacam Aqua dan Ades, yang harganya sekitar Rp 8.000 segalon.

Hasil penelitian IPB dan BPOM sepertinya juga tak berdampak nyata bagi para konsumen pembeli air minum isi ulang. Contohnya, di sebuah depot penjualan air minum isi ulang di Jalan Meruya Selatan, Jakarta Selatan. Banyak pelanggan tampak hendak membeli air minum isi ulang, sembari menenteng botol galon kosong yang dibawa dari rumah mereka. Daripada memakai air tanah yang rasanya bau, mendingan pake air minum isi ulang, ujar seorang pelanggan.
Pemandangan serupa juga terjadi di sebuah depot air minum isi ulang di Jalan Pahlawan, Bekasi Timur. Seorang pembeli, Anie, 38 tahun, mengaku tak tahu-menahu soal sehat-tidaknya air minum isi ulang, sebagaimana hasil penelitian IPB dan BPOM. Air minum isi ulang praktis, tak perlu dimasak lagi. Harganya juga murah, ujar Anie, yang tinggal di rumah kontrakan di daerah Bulak Kapal, Bekasi Timur.
Agaknya, pelanggan air minum isi ulang tergolong konsumen yang tak begitu peduli atau mungkin kurang memahami masalah mutu kesehatan air tersebut. Padahal, hasil penelitian IPB dan BPOM bisa dibilang jadi semacam lampu kuning alias peringatan keras terhadap mutu air minum isi ulang.
Sebagaimana ramai diberitakan beberapa waktu lalu, menurut hasil penelitian IPB, air minum isi ulang terkontaminasi bakteri coliform. Sebagian besar air hasil penyulingan di depot-depot yang diambil sampel airnya itu pun dianggap tak memenuhi standar industri air minum dalam kemasan. Hasil ini diperoleh setelah IPB menguji sampel air dari 120 depot air minum isi ulang di 10 kota, di antaranya Jakarta, Medan, dan Surabaya.

Sementara itu, BPOM menguji sampel air dari 95 depot air minum isi ulang di lima kota, termasuk Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Menurut hasil penelitian ini, sebagian air yang dimaksud juga tercemar bakteri coliform, e-coli, dan salmonella. Bahkan beberapa sampel air terdeteksi mengandung logam berat kadmium (lihat info grafik).
Kata Dr. Suprihatin, ketua tim peneliti dari Laboratorium Teknologi dan Manajemen Lingkungan di IPB, air yang akan dikonsumsi manusia seharusnya tak mengandung bakteri coliform. Hal ini juga sesuai dengan ketentuan dalam standar nasional Indonesia Nomor 01 35543 Tahun 1996 dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002.

Sejatinya, bakteri coliform tidak bisa diremehkan. Mikrobiologi ini merupakan kelompok besar dari beberapa bakteri penyakit, seperti escheria coli dan enterrobacter aerogenes. Biasanya, bakteri ini berasal dari kotoran manusia ataupun hewan.

Bila keracunan bakteri ini, pencernaan seseorang terganggu. Bahkan orang yang dimaksud bisa kena diare, sehingga terus-terusan buang air besar. ”Kalau ini terjadi, tubuh akan kekurangan cairan. Ini jelas membahayakan kesehatan,” kata Marius Widjajarta, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI).

Masih belum bisa dipastikan tingkat bahaya berbagai bakteri penyakit yang terdeteksi dalam air minum isi ulang. Demikian pula asal-muasalnya. Ia bisa berasal dari perjalanan air minum itu dari sumber airnya, baik di sumber mata air, air ledeng dari perusahaan daerah air minum, ataupun sumber air tanah. Bisa pula lantaran kurang sempurnanya proses penyulingan air minum isi ulang itu, yang menggunakan sinar ultraviolet dan ozonisasi.

Ada juga kemungkinan karena peralatan yang digunakan untuk proses penyaringan air minum isi ulang terlalu sederhana dan murah. Dan, botol-botol galon kosong yang dibawa konsumen ke depot tak mustahil pula masih kotor. Memang, ketika pelanggan membeli air minum isi ulang di depot, botol galonnya yang kosong dicuci dulu lantas di-gerojoki air minum isi ulang yang dibelinya.

Memang pula, hingga kini belum terdengar adanya kasus konsumen air minum isi ulang yang kesehatannya terganggu, misalnya terserang penyakit diare. Tak heran bila belum ada pengaduan semacam itu, baik ke YPKKI ataupun ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Tapi, bukankah mencegah lebih baik ketimbang mengobati setelah bencana tiba?

Sementara ini, hasil penelitian IPB serta BPOM mestinya bisa membuat konsumen air minum isi ulang menjadi berhati-hati. Setidaknya mereka bisa memilih depot air minum isi ulang yang dikategorikan bersih alias airnya tak tercemar bakteri patogen, sebagaimana hasil pengujian BPOM.
Malah Suprihatin dari IPB masih pula menyarankan agar konsumen, bila perlu, memasak lagi air tersebut hingga mendidih minimal selama dua menit. Proses tambahan ini bisa membunuh berbagai mikroba penyakit tadi.

Meski demikian, masih ada anggapan bahwa air minum isi ulang sesungguhnya memberikan pilihan bagi konsumen yang kurang mampu membeli air minum kemasan semahal Aqua atau Ades. Bisnis ini pun bisa dikatakan memberikan peluang bagi pelaku usaha kelas bawah.

Namun, bisakah hal itu dijadikan pembenaran bila menilik bahaya terhadap kesehatan konsumen? Karena itulah, Departemen Kesehatan serta Departemen Perindustrian dan Perdagangan harus segera membenahi air minum isi ulang.
Pada era otonomi daerah, tentu Dinas Kesehatan di tingkat kabupaten dan kota yang harus menindaklanjuti hasil penelitian di atas, umpamanya, dengan mengawasi dan mengecek kembali mutu air minum isi ulang di depot-depot di wilayahnya secara periodik.

Bersamaan itu, Departemen Perindustrian dan Perdagangan juga harus menguji dan memberikan sertifikat layak pakai terhadap instalasi pengolahan air minum isi ulang di depot-depot.

Yang penting, konsumen terlindungi dan bisnis air minum isi ulang bukan malah dipersulit, apalagi jadi kolutif.

 

Yuni Ananingsih

08303244005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: